Isu SARA, Siapa Takut ?

Isu SARA, Siapa Takut ?

Di tengah kebinekaan dan kemajemukan Indonesia isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) masih menjadi sangat sensitif. Demikian pula dalam menghadapi Pilkada DKI Jakarta. Isu SARA menjadi trending topic yang paling banyak dibicarakan dan menjadi isu utama dalam pergelutan para politisi untuk meraih orang nomer satu di DKI Jakarta. Bagi masyarakat moderat, kelompok metropolitan, kelompok gaul atau usia muda biasanya isu SARA tidak akan dibutuhkan lagi. Tetapi bagi kelompok lain seperti masyarakat tradisional, kelompok tertentu yang sangat taat kepada budaya, agama dan aliran tertentu maka isu SARA tidak bisa dipisahkan. Kelompok ini rasionalitasnya tidak bisa dipisahkan dengan kultural budaya dan agama. Pembunuhan rasio SARA akan mematikan hak informasi dan hak demokrasi di kelompok ini. Seharusnya tidak perlu takut dengan isu SARA positif. Berbeda di bandingkan daerah lainnya, dalam era modern di tengah masyarakat heterogen dan berpendidikan baik seperti Jakarta seharusnya tidak perlu takut isu SARA. Buktinya masyarakat Jakarta tidak terpengaruh isu SARA. saat kemenangan Koowi dan Ahok dalam putaranm pertama. Ternyata isu SARA negatif hanya bergaung di media online yang tidak formal seperti BBM atau SMS. Sehingga harus diperangi bersama adalah isu SARA negatif  yang dapat memecah belah bangsa.

Isu SARA sampai saat ini masih menjadi momok sangat menakutkan yang dapat memecah belah bangsa. Sama menakutkannya ketika aliran komunisme juga dianggap sebagai pemecah belah bangsa. Kekawatiran berlebihan tersebut menjadi sangat wajar karena pengalaman buruk bangsa ini ketika mengalami peristiwa kerusuhan PKI dan kerusuhan SARA.

Isu SARA dalam proses Pilkada DKI Jakarta sebenarnya sulit dihindari dalam pemilu Pilkada DKI Jakarta. Isu SARA sampai saat ini isu tersebut dengan cepat bergulir di tengah masyarakat baik media online atau media off line. Bila dicermati ada hal yang sulit dihindari dan masih diperbolehkan selama dalam batas etika, budaya dan koridor hukum yang berlaku. Tetapi tidak akan bisa ditolerir bila sudah melanggar etika dan aturan hukum yang telah disepakati bersama.

Sebenarnya isu SARA menjadi wajar dan sulit dihindari bila isu tersebut merupakan isu SARA positif. Selama ini sebenarnya secara tidak disadari isu SARA positif telah dikembangkan oleh masing-masing calon.  Bila ingin minta dukungan dari kelompoknya sendiri, pasti mereka akan mengajukan isu SARA positif untuk menarik hati pemilihnya. Menjadi wajar bilan calon Pilkada PKS menggunakan jargon agama untuk menarik simpati dalam kalangan keluarga besar PKS saat berada di kandang PKS. Demikian juga merupakan hal biasa bila Jokowi dan Ahok berpakaian budaya etnis tertentu dan memberikan sentimen budaya dalam lingkungan etnis tertentu di daerah Glodok. Sedangkan kelompok lainnya juga tidak menjadi masalah bila seperti Biem Benjamin berbaju si Jampang Betawi serta mengangkat slogan kebetawiannya bila akan menarik simpati masyarakat di daerah Kemayoran yang mayoritas dihadiri masyarakat Betawi.  Demikian juga isu SARA yang positif seperti yang disampaikan Rhoma Irama juga mengimbau para jamaah di lingkuan intern untuk memilih pemimpin yang seiman. “Islam itu agama yang sempurna, memilih pemimpin bukan hanya soal politik, melainkan juga ibadah. Pilihlah yang seiman dengan mayoritas masyarakat Jakarta,” ujarnya dalam suatu kesempatan di kalangan umatnya. Bila dicermati pengungkapan isu SARA seperti itu bila dilakukan kalangan sendiri tentunya tidak akan melanggar etika dan hukum manapun. Karena tidak akan menyakiti dan menyinggung pihak lain.  Dalam batas seperti ini maka pengembangan isu SARA dalam kampanye sah-sah saja dan tidak akan menganggu kerukunan umat.

Masyarakat ibukota terdiri dari berbagai kelompok usia dan berbagai golongan. Pada  kelompok moderat dan kelompok usia muda biasanya isu SARA tidak akan banyak mempengaruhi keyakinannya dalam memutuskan aspirasi politiknya.  Tetapi pada kelompok masyarakat tradisonal atau kelompok usia “Jadul” di atas 50 tahun pasti pengaruh budaya dan kesukuan sulit dipisahkan untuk menentukan aspirasi politiknya. Selain itu terdapat juga kelompok masyarakat yang sangat taat dan patuh terhadap agama dan keyakinan tertentu, pasti akan mempertimbangkan pemimpinnya dengan pertimbangan seiman dan satu agama. Bila isu SARA positif dilarang bagi kelompok ini maka justru  maka akan membunuh hak indformasi dan  hak demokrasi seseorang untuk menyampaikan pendapat yang baik dan benar untuk mendapatkan rasionalitas dalam pertimbangan pemilihan suara nantinya. Isu SARA positif masih merupakan kebutuhan bagi kelompok lainnya seperti masyarakat tradisional, kelompok tertentu yang sangat taat kepada budaya, agama dan aliran tertentu. Pada kelompok terakhir ini tidak bisa dipaksakan bahwa harus menolak isu SARA dalam rasio pemikiran mereka. Isu SARA akan menjadi tidak dibutuhkan lagi pada kelompok moderat atau kelompok usia muda. Kelompok ini saat ini memuja pluralisme daan kemajemukan. Bila isu SARA positif ini masih dicurigai maka hanyalah sebuah ketakutan pihak tertentu yang merasa tidak percaya diri.

Isu SARA Negatif

Merupakan pelanggaran etika dan hukum bila jargon SARA tersebut telah diberikan dalam forum yang lebih luas dan sangat plural.  Tidak bisa ditoleransi dan dilarang keras bila mengungkapkan isu SARA negatif. Isu SARA  negatif adalah bila digunakan sebagai sarana untuk menghasut, menjelek-jelekan dan kampanye negatif terhadap pasangan calon lain, itu sangat dilarang.  Namun biasanya isu seperti ini hanya diangkat secara tertutup atau secara sembunyi di media online dengan tanpa identitas. Akan menjadi polemik dan perdebatan bila isu SARA tersebut sudah masuk arena umum dan masyarakat yang plural. Namun biasanya dengan sendirinya para kandidat tidak akan berani mengangkat isu SARA yang negatif dalam kondisi seperti itu. Jadi secara pasti tidak akan seorang kandidatpun akan berani bunuh diri dengan mengangkat isu SARA yang negatif seperti menjelek-jelekkan calon lain karena alasan SARA.

Masyarakat sebenarnya tidak perlu kawatir berlebihan bila tentang isu SARA yang positif. Yang perlu dikawatirkan isu SARA negatif yang saat ini justru banyak bergaung di media online. Sampai kapanpun sulit sekali untuk membendung isu negatif bila itu sudah berkembang di media online gelap yang tidak tahu asal usulnya. Media online saat ini bukan hanya media internet, tetapi banyak juga media sosisal lainnya seperti blackberry Masanger atau SMS yang lebih cepat lagi penyebaranya.

Isu SARA negatif harus dilarang karena melanggar etika dan hukum misalnya bila Rhoma Irama menjelek-jelekkan agama calon kandidat lainnya. Isu SARA negatif harus dilarang bila Biem Benyamin mendiskriditkan calon kandidat dari etnis lainnya. Isu SARA negatif bila seorang calon menghasut dan menjelek-jelekkan calon lainya dengan dasar SARA. Menjdai tidak etis bila Rhoma Irama, Jokowi atau Foke dengan narsis mengangkat isu SARA di tempat lebih heterogen dan kalangan umum. Sampai saat ini tidak ada seorangpun tim sukses dan kandidat yang telah berlaku seperti itu. Para tim sukses dan para kandidat calon gubernur tampaknya adalah orang terpelajar, orang hebat, dan orang pluralis yang sangat rasionalistis dan sangat menjunjung tinggi sikap demokratis dengan sportivitas tinggi..

Bagaimana Menyikapi

Persoalan SARA sendiri bukanlah masalah bila menilai suku, agama, dan ras dapat dibiarkan terbuka, saling tahu dan saling bergaul tanpa beban agar praktik persatuan di masyarakat menjadi alamiah. SARA tidak usah dipersepsi secara negatif dan ditutup-tutupi. Tentu kita juga harus kampanyekan agar rakyat memilih karena mutu bukan karena SARA tersebut.

Berbeda dengan daerah lainnya, masyarakat Jakarta sudah sangat heterogen dan tingkat pendidikan yang sudah baik tentunya tidak akan terpengaruh isu SARA yang negatif. Masyarakat modern dan berpendidikan tinggi juga akan menggunakan rasionalitasnya. Masyarakat Jakarta yang berpendidikan dan bermoral pasti tidak akan menjadikan isu SARA dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Sejatinya setiap kandidat tidak perlu takut dengan isu SARA postif tersebut. kalau takut berarti kandidat tersebut kurang percaya diri dengan kemampuannya. Apapun isu SARA yang beredar dalam masyarakat bila sebagian besar masyarakat Jakarta menggunakan rasionalitasnya maka isu tersebut tidak akan berarti. Buktinya meski dengan merebaknya isu SARA di kampanye puttaran pertama tetap saja Jokowi dan Ahok memenangi putaran awal pilkada.

Sebenarnya memang dalam kehidupan masyarakat yang rasional yang menjadi pertimbangan utama adalah misi, visi, kompetensi, kapabiltas dan kualitas calon pemimpin. Rasionalitas pertimbangan SARA akan semakin ditinggalkan dan semakin tidak mendapat tempat dalam masyarakat modern seperti jakarta. Tetapi harus disadari terdapat kelompok tertentu seperti masyarakat tradisional, kelompok tertentu yang sangat taat kepada budaya, agama dan aliran tertentu yang tidak bisa dipisahkan dengan isu SARA positif. Melarang isu SARA positif akan membunuh kebutuhan hak demokrasi mereka. Sebenarnya bila dipikirkan dengan rasionalilas otak modern isu SARA positif tidak harus ditakuti, seperti dahulu kita takut berlebihan pada isu komunisme. Justru dengan isu SARA positif itu bila bergaung dalam kelompok tertentu maka kelompok lainnya harus menghormatinya sebagai hak demokrasi mereka. Hal ini bila dilakukan akan menjadi pelajaran demokratis yang sangat indah. Yang harus dilawan bersama adalah isu SARA negatif yang memecah belah bangsa. Pilkada DKI Jakarta tahun ini adalah pelajaran berharga bagi masyarakat DKI yang moderat, rasional dan cerdas dalam berdemokrasi. Isu SARA positif, Siapa Takut ?

 

Supported By

KORAN DEMOKRASI INDONESIA Yudhasmara Publisher Media Informasi dan Edukasi Demokrasi, Hukum, Politik dan Hak Asasi Manusia Aspirasi Rakyat Sipil Merdeka.  Warnailah Indonesia dengan Peduli Hak Asasi manusia, Demokrasi sejati, Politik sehat dan Hukum berpihak bagi semua Berdemokrasilah kamu bak demokrat sejati, Bersosialisasilah Penuh Asasi, Berpolitiklah kamu bak kaum sufi dan Bermainlah hukum bak hakim suci  Jl Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Pusat Phone : (021)  5703646 email : judarwanto@gmail.com http://demokrasiindonesia.wordpress.com/

Copyright @ 2014 Koran Demokrasi Indonesia. Information Education Network

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Politik, Sosial Budaya dan tag , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s